Kami pindah rumah

Silakan kunjungi situs kami yang baru di www.lpmhayamwuruk.com. Untuk aktivitas update berita akan dilanjutkan di alamat yang baru. Blog ini akan tetap ada dan tidak dihapus. Di website LPM Hayamwuruk yang baru, rubrik lebih beragam dan pembaca bisa bergabung sebagai kontributor lpmhayamwuruk.com. Terima kasih atas kunjungan anda.

Pertaruhan Hidup Menjadi Penulis

Oleh Muhamad Sulhanudin

Menjadi penulis itu tak mudah. Bohong besar jika ada yang mengatakan bahwa menulis (yang baik) itu gampang. Ia menuntut ketekunan untuk menggali ide, kepiawaian merangkai kata demi kata, kemudian kesediaan untuk merenungkan maknanya. Itu saja belum cukup. Menulis butuh tekad yang kuat dan kemauan keras untuk terus mencoba, menulis dan menulis, mengulang dan mengulangnya kembali hingga akhirnya menemukan kepuasan.

Apalagi jika anda hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup. Menggantungkannya sebagai mata pencaharian (professional). Maka jauh-jauh hari anda harus siap untuk hidup susah. Tertekan, baik lahir maupun bathin. Rela menahan lapar karena tulisan tak kunjung dimuat di surat kabar atau diterbitkan dalam buku, menahan kantuk bermalam-malam, dan bahkan rela untuk hidup sendiri menjauh dari keramaian. Sungguh ini pilihan yang tidak mengenakkan!

Tapi itulah jalan yang dipilih Erskine Cadwell, cerpenis dan novelis besar Amerika Serikat. Erskine memilih jalan itu dengan sadar, bukan terpaksa karena tak memiliki pekerjaan, misalnya. Ia justru mengambil keputusan untuk menjadi penulis fiksi professional ketika karir wartawannya tengah naik daun, ketika kerjanya mendapat pujian dari atasan. Bagi orang awam, jelas itu sebuah keputusan yang sangat mengejutkan. Sebagian orang mungkin akan menyebut keputusan itu tidak rasional.

Hunter Bell, redaktur di The Atlanta Journal, tempat Erskine mulai meniti karir jurnalistik profesionalnya, menasehatinya agar mengurungkan niatnya. Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap Erskine akan berubah pikiran.

Namun Skinny—begitu ia biasa disapa oleh rekan kerjanya– sudah membulatkan tekad. Siang itu, setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer The Atlanta Convention and Tourist Bureau, atas liputannya yang memuaskan, dia menegaskan keputusannya. Ia ingin menjadi penulis fiksi profesional.

Sebenarnya jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel, seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya setelah bekerja selama sepuluh tahun di The Atlanta Journal. Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya Gone With The Wind. Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah aku suatu saat membuat keputusan serupa?

Hari itu dia benar-benar menantangnya, ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.

****

Akhir pekan ia meninggalkan Atlanta menuju Negara Maine, sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota. Pedesaan dengan perbukitan yang mengombak oleh beragam pepohonan rindang, padang rumput yang lebat memagari sungai-sungai kecil berliku, menjadi hunian barunya. Ia berpikir tempat ini sangat cocok untuk menulis.

Musim panas segera berakhir, ia mulai mengumpulkan kayu untuk perapian di musim dingin. Ia mananam kentang di ladang untuk di makan. Siang hari ia habiskan di ladang dan mengumpulkan kayu, malamnya ia menulis, sisanya untuk istirahat. Secara matematis, 24 jam dalam sehari ia habiskan 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk menulis, dan sisanya 8 jam untuk beristirahat.

Belasan, hingga puluhan cerita pendek telah ia tulis dengan mesin ketik butut yang ia beli dari hasil memeras keringatnya menjadi buruh kasar di pabrik minyak biji kapas ketika dirinya masih duduk di bangku setingkat SMU. Ia bekerja di malam hari, berangkat ketika orang di rumah mulai tertidur dan kembali dengan mengendap-endapkan langkah kakinya agar orang di rumah tidak terbangun dan mengira ia tertidur pulas semalaman. Sebentar kemudian dia bergegas berangkat ke sekolah.

Sebenarnya penghasilan ayahnya sebagai pastor di gereja di dekat tempat tinggalnya sudah mencukupi. Namun karena keinginannya untuk bekerja, membuatnya mau bekerja apa saja. Semasa sekolah ia melakukan pekerjaan apa saja, menjual koran, menjadi juru ketik, menulis berita didaerahnya untuk beberapa surat kabar. Rupanya minat menulisnya tanpa disadari mulai tumbuh. Ketika kuliah di Universitas Virginia dia melanjutkan minat menulisnya dengan menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar.

Ia mulai mengirim cerpen-cerpennya ke beberapa surat kabar. Namun tak satupun dimuat. Ia sudah cukup senang ada satu-dua yang memberikan penjelasan alasan penolakan. Kegiatan ini terus dilakukan, mengirim cerpen, dan mendapati surat penolakan, hingga surat-surat itu menumpuk. Diam-diam memandangi tumpukan surat penolakan dan membacanya menjadi kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.

Seorang redaktur menyarankan agar dia meniru cara menulis para penulis yang sedang populer. Seorang redaktur lain menyarankan agar dia menekuni bidang pekerjaan lain mengingat bisnis surat kabar yang tidak menentu akibat krisis yang sedang melanda Amerika, sehingga peluang untuk menulis cerpen semakin sempit. Komentar-komentar itu dibacanya, diambil seperlunya agar ia tak sakit hati dibuatnya.

Dengan persediaan uangnya yang mulai menipis ia masih butuh membeli perangko untuk mengeposkan surat, membeli beberapa batang rokok, kopi dan gula untuk teman mengetiknya di malam-malam hari. Dia bertekad menjual buku-bukunya yang dikumpulkan dari hasil menjadi pereview buku di The Atlanta Journal. Koleksi bukunya mencapai ratusan, dan kebanyakan adalah novel dan kumpulan cerpen. Ia pergi ke kota, mengunjungi tempat penjualan buku bekas hingga akhirnya bertemu kenalan yang menawarinya untuk menjalankan bisnis buku.

Bersama kawannya ia membuka kios buku. Buku-buku koleksinya dan beberapa buku tambahan dari agen penerbit ditata di rak. Namun bisnis buku ini bukannya menghasilkan tapi malah membuatnya makin terlilit hutang. Ia sudah kehabisan akal bagaimana untuk mendapatkan uang. Yang jelas dia hanya ingin menjadi penulis, bukan berbisnis buku.

Dia berjanji kepada dirinya sendiri, pekerjaan apapun, diluar menulis, dilakukan hanya untuk sementara dan semata-mata untuk tujuan bertahan hidup, memiliki tempat tinggal, dan berpakian layak.

Seorang teman lama mengajaknya ke suatu tempat, yang kemudian dia tahu tempat yang dituju itu adalah bank. Pegawai bank menanyakan jaminan apa yang dapat diberikan Erskine, kapan dia sanggup mengembalikan pinjaman. Erskine tak punya jaminan yang cukup bernilai, kecuali sebuah mobil tua dan mesin ketik usang. Temannya meyakinkan pegawai bank kenalannya itu bahwa Erskine adalah seorang calon penulis. Dia serius ingin menjadi penulis, dan kelak bukunya akan diterbitkan. Pegawai bank yang mengaku sebenarnya juga ingin menjadi penulis itu mengangguk dan segera menyuruh stafnya mencairkan pinjaman sebesar $1000.

****

Erskine pasti sudah memperhitungkan keputusannya meninggalkan pekerjaan demi menjadi penulis fiksi profesional. Godaan akan selalu menghantui bagi siapa saja yang mengambil keputusan seperti dirinya, yang hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan hidup, sementara hasil menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung terpenuhi.

Mental sekuat baja, tak bisa ditawar, harus dipersiapkan agar mampu menjalani masa-masa yang paling sulit, masa di mana tiada jaminan finansial yang memadai. Jika tidak, ia akan tergoda untuk mengalihkan perhatiannya kepada pekerjaan yang bagi kebanyakan orang lebih rasional, pekerjaan yang lebih bisa menghasilkan uang. Dan keinginan menjadi penulis fiksi profesional menjadi angan-angan yang lebih layak untuk ditertawakan.

Memang Erskine pada akhirnya dapat memetik hasil jerih-payahnya. Perlahan-lahan cerpennya mulai dimuat di koran kecil, hingga menembus Scribner’s Magazine, sebuah keinginan yang sudah dinanti-nantinya menaklukan media yang memiliki distribusi luas.

Kumpulan cerpennya yang diberi judul American Earth dibukukan. Tak lama kemudian menyusul novel perdananya Tobaco Road, yang terinspirasi dari sebuah kehidupan di perkampungan miskin di dekat tempat tinggalnya, sebuah jalan yang dibuat dengan menggelindingkan tong yang diisi tembakau yang diawetkan. Untuk pertama kalinya, ia menerima bond royalty dari penerbitan buku.

Hingga novel God’s Littele Acre yang menurutnya paling memuaskan, You Have Seen Their Faces, dan novelnya Tobaco Road yang telah dipentaskan lebih dari tujuh tahun, hasil royalty yang diterimanya tidak bisa dibilang telah cukup membuatnya menjadi seorang yang terbebas dari masalah keuangan. Penghasilan darinya waktu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari-harinya, bahkan masih kurang untuk gaya hidupnya yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia memang gemar sekali mengunjungi tempat-tempat baru, menjelajahi seluruh kawasan benua Amerika, bahkan dunia. Kondisi finansialnya baru dikatakan lebih membaik setelah dia menjadi penulis skenario untuk film di MGM, yang menggajinya $3000 per minggu, penghasilan tertinggi yang pernah di terima sepanjang hidupnya.

****

Menyimak perjalanan hidup Erskine ini, sama seperti saya, barangkali anda akan mengajukan pertanyaan, kenapa dia bersiteguh ingin menjadi penulis fiksi professional, kenapa tidak menjadi bankir, atau melakukan pekerjaan lain yang lebih mudah menghasilkan uang.

Dalam buku “Menulis adalah Jalan Hidupku” yang diterbitkan oleh Penerbit Bustan Yogyakarta, diuraikan secara rinci perjalanan menulis Erskine Cadwell. Buku yang ditulis sendiri oleh Erskine ini di dialihbahasakan dari buku Call it Experience, The Years of Learning How to Write.

Diakuinya, keputusan Erskine menjadi penulis fiksi profesional karena dirinya suka menulis, dan tak yakin bisa melakukan pekerjaan lain selain bidang ini. Oleh karena itu, ia ingin menjadikan menulis sebagai penopang hidupnya. Ia menganggap apa yang dikerjakanya sebagai hal yang wajar, karena baginya semua pilihan pekerjaan membutuhkan ketekunan. Begitu juga dengan menulis.

Kalaupun ada seorang yang hendak menjadi penulis, namun ditengah jalan menemukan alasan yang menurutnya lebih logis untuk melakukan pekerjaan lain, berarti memang dia tidak punya modal yang cukup untuk menjadi seorang penulis. Pada akhirnya tingkat intensitas keadaan pikiranlah yang menentukan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam profesi yang diinginkannya.

Menulis fiksi dipilihnya karena cerpen atau novel adalah cermin bagi orang-orang. Ia mendefinisikan cerpen atau novel sebagai cerita imajiner bermakna yang cukup menarik perhatian pembaca dan cukup mendalam untuk meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya.

Ia menampik anggapan bahwa untuk menjadi seorang penulis seorang harus miskin dulu agar cocok dengan dunia kepenulisan. Yang dibutuhkan adalah semangat keuletan yang dapat melecut orang untuk berjuang keras mengatasi setiap penghalang menuju kesuksesan.

Ia pun tak menganjurkan siapa saja yang hendak menjadi penulis untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Ia mengambil contoh banyak penulis ternama yang bukan penulis profesional. Banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh mereka yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan rumah setiap hari atau menjalankan bisnis dalam lima atau empat hari dalam seminggu. Ketika menulis sudah menjadi hobi, maka siapapun akan menyempatkannya. Dan seperti hobi-hobi yang lain, menulis bisa dikerjakan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Keputusannya meninggalkan karir jurnalistiknya bukan karena keterampilan menulis jurnalistik bertentangan dengan menulis fiksi. Sebaliknya, menulis jurnalistik justru yang mengantarkan minatnya dalam dunia tulis-menulis. Belajar menulis dengan bentuk apapun tak ada yang merugikan. Dari pengalamannya, menulis jurnalistik membantunya untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Menunggu inspirasi adalah pernyataan yang jarang sekali dijumpai di kalangan wartawan yang terlatih.

Anda boleh saja menganggap apa yang dilakukan oleh Erskine itu sebagai sesuatu yang mengada-ada, sesuatu yang berlebihan yang sebenarnya mudah tapi dibuat sulit oleh dirinya sendiri. Namun bagi anda yang saat ini sudah memutuskan diri menjadi professional, baik itu fiksi maupun non fiksi, sedikit banyak pasti sudah melewati masa-masa itu. Hanya saja intensitasnya mungkin berbeda.

Nah, bagi anda yang saat ini, atau pernah terbesit untuk menggantungkan hidup dari penulis, apakah masih berminat?

*Ditulis oleh Muhamad Sulhanudin. Kunjungi blognya di http://hanyaudin.blogspot.com

Edensor: Menjual Sejarah Pribadi

Judul : Edensor Buku Ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi)
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 290 hlm ; 20.5 cm

[diresensi oleh Wiwik Hidayati]

Aku bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tiba-tiba tersintetis persis di depan mataku, indah tak terperi.

Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku, lalu menjawab.
“Sure lof, it’s Edensor….”.

Penutup yang cantik untuk Edensor; sebuah karya yang mengandung mimpi-mimpi. Mungkin itulah temuan terbesar dan terindah bagi Ikal karena di sana ada kesejatian cinta. Cinta Ikal pada A Ling.

Namun sayang beribu sayang, keindahan itu tak bisa dilekatkan Andrea pada keutuhan karya. Ketika membaca Laskar Pelangi misalnya, meskipun dalam kebahasaan Andrea terlihat payah, namun hal itu tertutupi oleh cerita yang menarik. Atau mungkin bisa dibilang penceritaan yang menarik. Ia menghidupkan suasana dan tokoh. Lintang sangat hidup, begitu juga Mahar. Ia mendeskripsikan sekolah Muhammadiyah yang mengenaskan dengan detail.
Sedangkan Sang Pemimpi, Andrea menulisnya lebih bagus. Keunggulan karya yang kedua ini selain kebahasaan lebih baik dan juga detail, yang terpenting adalah peramuan karya dengan joke. Ini yang jarang dimiliki kebanyakan pengarang. Karena joke itulah, Sang Pemimpi menjadi karya yang beda; ringan, enak dibaca, dan menyenangkan. Dan satu lagi yang tak bisa dilepaskan dari Andrea, semangat bermimpinya. Karya yang Inspiratif.

Edensor, karya ketiga dari tetraloginya, masih sama seperti karya-karya sebelumnya yang bermain dengan “mimpi”. Dari segi kebahasaan lumayan bagus, namun dari segi lain sangat kurang kalau tidak mau dikatakan buruk. Ada pemaksaan-pemaksaan di sana.

Pemaksaan pertama, pemborosan bab. Selanjutnya saya ganti dengan mozaik karena Andrea menggunakan kata itu untuk penyebutan bab. Dari mozaik 1, “Laki-laki Zenit dan Nadir”; hingga mozaik 8, “Wawancara”, saya tak bisa melihat maksud Andrea dengan ceritanya itu. Yang saya tangkap justru curahan hati dan kenarsisannya.

“Laki-laki Zenit dan Nadir”. Di situ diceritakan bahwa Weh adalah lelaki yang gagah dan cerdas. Namun karena ketidakmujuran nasib, ia menjadi lelaki yang kurang beruntung. Ia terkena burut, penyakit yang disebabkan karena isi perut (usus) turun dan biasanya kantong kemaluan menjadi besar (KBBI). Karena itu, ia mengucilkan diri dari kehidupan sosial. Siapa Weh? Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu. Weh adalah sahabat masa kecil ayah ibuku (hal: 3).

Di kuburan usang, di antara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah belajar mencintai ibuku dari orang yang membenci hidupnya, dan Weh adalah orang pertama yang mengajariku mengenali diriku sendiri (hal: 12). Weh tidak lebih dari salah satu orang yang berharga bagi Andrea sendiri, karena itu, ia memasukkannya dalam cerita. Sebagai ucapan terimakasih. Weh bukan tokoh penting. Jika dianalogikan dalam sinetron Indonesia, ia adalah tokoh yang dimunculkan ketika sinetron sudah mulai diperpanjang karena rating yang cukup bagus.

Lalu, “Juru Pendamai”, “Pengembara Samia”, “Partner in Crime”, dan “Rahasia Gravitasi” (mozaik 3-6) menceritakan tentang masa kecil Ikal yang nakal. Ini masuk dalam alur perulangan. Andrea kecil sudah dimunculkan dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Meski saya katakan memang beda karena cerita dalam Edensor ini adalah cerita masa kecil Ikal yang belum diceritakan pada novel-novel sebelumnya. Namun, seberapa penting cerita tersebut memengaruhi alur dan isi cerita? Membuyarkan. Ia membuat pembaca tidak nyaman.

Edensor ditunggu karena pembaca ingin mengetahui kelanjutan nasib Ikal dan Arai di luar negeri. Mereka tidak membutuhkan cerita masa kecil Ikal lagi. Inilah kenarsisan Andrea. Ia ingin banyak membuka sejarah hidupnya. Apa yang salah?

Ok, ini sebuah novel (memoar) yang sebenarnya tak masalah bila ingin menciptakan karya sekehendak hatinya, karena ia “sang tuhan”. Tapi ketika terlalu mengeksplor dirinya, tampak sekali tujuan utamanya yang sudah mulai membelok. Ia yang katanya ingin membuat karya yang mencerahkan, sudah mulai melupakan niat itu.

Kehadiran Weh dalam mozaik itu, dan beberapa mozaik setelahnya, hanya berfungsi mempertebal halaman. Atau mungkin, seperti yang saya katakan tadi, sebagai bentuk kenarsisan Andrea dan rasa terimakasihnya pada seseorang.

Ada 13 gambar dalam novel. Di antaranya gambar ikal yang dibonceng ayahnya, komidi putar, kartu wesel dan beberapa gambar lain. Semoga itu bukan bagian dari niat mempertebal halaman, namun sisi kreatif dari tim kreatif yang ingin memunculkan keindahan dalam novel. Keindahan versi mereka. Dan saya harap itu bukan bagian pemaksaan yang kedua.

Kelemahan lain Edensor adalah mozaik-mozaik pendek. Dalam Partner in Crime misalnya, hanya terdiri tiga halaman. Satu setengah halaman subbab pertama, dan satu setengah halaman subbab kedua. Subbab pertama terdiri dari tiga paragraf, paragraf yang berisi keindahan alam Belitong menjelang malam, kemudian paragraf tentang masjid, dan paragraf ketiga baru menceritakan keluarga Ikal yang memungut Arai. Arailah Partner in Crime itu. Subbab kedua kembali menceritakan keadaan ayahnya yang pusing memikirkan penggantian nama Ikal. Satu mozaik dengan beberapa cerita. Tidak fokus.

Mozaik seperti itu sebenarnya memperingan pembaca dalam menikmatinya. Namun titik kelemahan di dalamnya adalah ketidakdetailan sehingga pembaca kurang nyaman. Pembaca tidak bisa masuk dalam ruang penceritaan. Serasa seperti terpotong-potong.

Edensor, tetap punya hal menarik untuk dilahap. Pengetahuan baru tentang kebudayaan baru dengan orang-orang baru. Ya, budaya negara-negara Eropa dan beberapa Afrika yang mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ini berkat tulisan Andrea dengan petualang-petualangannya yang menakjubkan.

Bagi saya, membaca Edensor serasa membaca laporan perjalanan Andrea. Saya kurang bisa menikmatinya. Edensor tidak senyastra Sang Pemimpi. Silakan buktikan!

—————————————————————————————
[Wiwik Hidayati adalah pengelola LPM Hayamwuruk. Mantan Redaktur Bahasa Tabloid dan Newsletter Hawe Pos. Sekarang menjadi reporter Majalah Hayamwuruk. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, menjelang semester akhir. Kunjungi blognya di http://heedawiwix.blogspot.com ]

Ingin Kerjasama, Kami Siap Menjadi Partner Anda

Diskusi/Launching Buku

Kami siap menjadi partner anda untuk kegiatan diskusi/launching buku yang akan di adakan di kampus Sastra Undip dan sekitarnya. Kami mengkhuskan untuk membedah/mendiskusikan buku-buku sastra, seperti novel, kumpulan cerpen, puisi maupun non fiksi, seperti esai/kritik sastra; buku kajian sosial, budaya dan kesenian; buku jurnalistik dan penulisan kreatif, dan tema-tema lain yang masih terkait.

Kegiatan Diskusi Tema Aktual

Jika beberapa minggu terakhir, kabar seputar rencana realisasi PLTN di Jepara, Jawa Tengah banyak dibicarakan oleh kalangan masyarakat kampus, dan anda sebagai lembaga yang terlibat ataupun punya kepentingan, dan ingin mendiskusikan gagasan anda, kami pun siap menjadi partner.

Sebagai fasilitator, kami tidak hendak menjadi juru kabar bagi kalangan tertentu, namun yang lebih menjadi pertimbangan adalah kegunaan informasi dan wacana bagi masyarakat kampus. Untuk keperluan ini, kami siap menjadi fasilitator dan menangani kegiatan di lapangan dan segala yang diperlukan.

Kelas Jurnalistik dan Penulisan Kreatif

Setiap awal semester kami membuka program magang untuk kelas menulis jurnalistik dan penulisan kreatif. Kelas disampaikan dalam bentuk diskusi dan praktek.

Materi jurnalistik meliputi: dasar-dasar jurnalisme, manajemen liputan, menulis berita dalam beberapa bentuk, dan jurnalisme tingkat lanjut.

Materi penulisan kreatif meliputi: menulis esai, cerpen, kiat menembus media massa, menerbitkan buku, dan diskusi soal dunia tulis-menulis.

Bagi yang tertarik bisa datang langsung ke kantor redaksi.

Jasa Pembuatan Website Profesional

Kami bekerja sama dengan suaramerdeka.com melayani jasa pembuatan website untuk instansi, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, maupun website pribadi. Biaya sangat terjangkau, ditangani oleh tim ahli dibidangnya.

:: Info selengkapnya silakan hubungi kami via email hawepos_online@yahoo.com, khusus untuk pembuatan website, di cc-kan ke redaksi@suaramerdeka.com.

Jadwal Pembayaran SPP dan PRKP Semester Gasal 2007

Jawal pembayaran SPP dan PRKP semester gasal 2007 dimulai tanggal 9 Juli sampai 3 Agustus. Selebihnya, disarankan untuk cuti.

Perlu diperhatikan:

  1. Memang rentang pembayaran SPP dan PRKP kali ini lebih panjang tidak seperti biasanya yang hanya dua minggu. Namun pembayaran ini hanya dilaksanakan dalam satu gelombang, tidak ada gelombang dua.
  2. Diberitahukan kepada mahasiswa angkatan 2002 ke atas (2001-1999), bahwa KTM (Kartu Mahasiswa yang merangkap fungsi sebagai ATM) mulai periode Juli 2007, ATM tidak bisa digunakan lagi. Alasannya masa penggunaan KTM adalah lima tahun. Mulai sekarang KTM hanya bisa dipakai untuk Kartu Mahasiswa. Untuk keperluan penarikan dan penyetoran yang sebelumnya bisa dilakukan dengan ATM, bisa dilakukan dengan buku taplus BNI. Bagi yang ingin ATM baru dilaksanakan untuk membuat lagi.
  3. Jumlah pembayaran DKM untuk mahasiswa lama semester ini adalah dua kali lipat. Jumlah ini merupakan akumulasi dari DKM semester sebelumnya yang ditangguhkan ke semester ini. Maka jumlah pembayaran DKM semester ini adalah 2xRp 16.ooo=Rp 32.000.

Selamat menikmati liburan bagi yang sudah selesai jadwal ujiannya, dan selamat mengerjakan ujian bagi yang masih ada jadwal ujian. Untuk jadwal pengisian KRS akan kami sampaikan berikutnya.

Kabinet Pembantu Dekan Baru Terpilih

Setelah Dekan baru terpilih, Prof. Dr. Nurdien HK, M.A., Senat Fakultas Sastra pada 19 Juni 2007 berhasil memilih para Pembantu Dekan baru. Mereka yang terpilih:

  • PD I Prof. Dr. Sutedjo Kuat Widodo
  • PD II Dra. Dewi Murni, M.A.
  • PD III Drs. Mudjid Farihul Amin, M.Pd.
  • PD IV Drs. Suharno, M.Ed.

Meski ada beberapa yang suara baik dari dalam (dosen, karyawan, dan mahasiswa) dan dari luar (alumni) yang memberikan komentar kurang puas dengan komposisi kabinet baru ini, tampaknya fakultas akan jalan terus dengan keputusan yang telah dibuat. Mungkin kita hanya berharap, “Semoga…….” [info ini diposting oleh Mulyo HP di milis sastraundip@yahoogroups.com]

Catatan redaksi:
Prof. Dr. Sutedjo Kuat Widodo delegasi dari Jurusan Sejarah, Dra. Dewi Murni, M.A. dari Jurusan Sastra Inggris, Drs. Mudjid Farihul Amin, M.Pd. dari Jurusan Sastra Indonesia, Drs. Suharno, M.Ed. dari Jurusan Sastra Inggris.

Dari ke empat nama itu, Suharno adalah satu-satunya nama yang duduk di lembaga dekanat sebelumnya. Ia memangku jabatan yang sama, PD IV, bagian kerjasama.

Pemilihan Pembantu Dekan ini dipilih oleh anggota Senat Fakultas. Sebelumnya panitia mengirimkan formulir pendaftaran ke sejumlah dosen yang memenuhi kualifikasi secara karir jabatan di fakultas (setara lektor IV). Dari yang dikirimi formulir itu ada 12 calon yang mengembalikan.

Sebelum pemilihan, panitia pemilihan yang diwakili oleh Drs Mulyono MHum, Pembantu Dekan III periode sebelumnya, menyampaikan sosialisasi ke para pegiat UKM dan HMJ/HMPSD. Menurut Mulyono, aspirasi dari mahasiswa akan menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan yang akan dilakukan oleh Senat Fakultas.

Mulyono memberikan kesempatan kepada para pegiat lembaga mahasiswa itu untuk menentukan calonnya. Bisa berupa kriteria, atau langsung memunculkan nama calon yang diajukan dari PD I sampai PD IV.

“Saya yakinkan kepada anda, bahwa saya pribadi akan memilih sesuai nama yang anda rekomendasikan, khususnya PD III. Saya jamin!,” tegas Mulyono.

Apakah hasil pemilihan Pembantu Dekan itu memuaskan kalangan mahasiswa? Ikuti hasil liputan tim Hawe Pos yang akan terbit bulan Juli-Agustus.

Pengorbanan yang Sia-sia

Sebuah pengakuan keluarga NII

Tubuh Evi lemas seketika mendengar ucapan Gonggo. Evi tak habis pikir, pengorbanan yang dilakukan selama ini dibalas dengan perlakuan yang tak semestinya dia terima. Perlakuan kasar seorang adik kepada kakak, setelah sang kakak mati-matian mengusahakan uang pinjaman sampai kuliah pun menjadi berantakan.

“Sudah baca SMS-ku,” tanya Evi kepada Gonggo yang duduk berhadapan di satu meja di sebuah kantin di salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

Gubraaaaakkk!!!… Tangan Gonggo menggebrak meja. Dia berdiri dari tempat duduknya. Matanya melotot. “Anda salah datang ke Jogja. Kita tertawa pas waktu baca SMS anda,” jawabnya lantang dengan mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah muka Evi.

Dari ucapannya itu, menurut Evi sepertinya Gonggo sudah tak menganggap lagi Evi sebagai kakaknya. Dia menyebut “Evi” dengan “Anda”. Yang membuat Evi penasaran adalah kata ‘Kita’,”…Kita Tertawa,” kata Gonggo kepada Evi. Siapa Kita itu, dia dan siapa?

“Saat itu, aku hanya diam saja. Mie yang sudah dipesan nggak aku makan. Nggak nafsu lagi,” kenang Evi.

****

Drama perseteruan kakak dan adik ini dimulai sejak pertengahan 2006, sekitar satu tahun silam. Suatu hari Gonggo datang ke Semarang untuk menemui Evi. Waktu itu Gonggo masih berstatus sebagai mahasiswa semester III di Fakultas Kehutanan UGM. Gonggo datang dengan muka memelas. Dia mengaku habis menghilangkan kamera milik temannya yang harganya mencapai 5 jutaan. Ia berbicara sambil menitikan air mata. Evi percaya. Dia kasihan melihat adiknya.

Kepada Gonggo Evi bilang akan membantu meminjamkan uang. Jawabannya ini diberikan untuk menyenangkan sang adik. Padahal saat itu Evi tak mempunyai cukup uang sejumlah yang dibutuhkan Gonggo. Evi akan menyanggupinya, entah ke mana dia akan mencari pinjaman, saat itu belum terpikirkan.

Belum lunas Evi membayar cicilan utang, Gonggo datang lagi dengan keinginan yang sama: butuh uang. Kali ini untuk biaya reparasi motor temannya. Ia baru saja kecelakaan dengan mengendarai motor milik teman. Beruntung dia tidak mengalami luka serius. Untuk yang kedua kalinya, Evi tak bisa mengelak. Di matanya Gonggo adalah seorang adik yang baik. Dia juga penurut.

Namun kebiasaan meminjam uang makin kerap dilakukan Gonggo. Dan yang menjadi tumpuan adalah sang Kakak. Barangkali Gonggo sungkan jika harus berurusan dengan bapak-ibunya. Evi mulai menaruh curiga. Ada yang tak beres dengan adiknya. Dia kerap pinjam uang. Dia juga sering bilang sedang ada di Semarang. Untuk apa, bagaimana dengan kuliahnya di Yogya, apa dia nggak kuliah?

Tak selang lama, keluarga Evi di kampungnya di sebuah desa di Kecamatan Juwono, Pati, Jawa Tengah mengeluh karena Gonggo sudah lama tak pulang ke rumah. Padahal saat itu kuliah sedang libur habis ujian semester. Kepada orang tuanya Gonggo mengaku tidak bisa pulang ke rumah karena dia mengikuti semester pendek. Kecemasan orang tua makin menjadi karena belakangan nomor handphone anaknya itu tak bisa dihubungi lagi.

Menurut Evi, adiknya itu sering menggunakan nomor-nomor yang berbeda untuk mengirim SMS kepadanya. Evi juga mulai kesulitan kemana harus menghubungi sang adik.

Dari hasil informasi yang dilacak oleh paman Evi yang berada di Jogja, diketahui Gonggo tidak mengikuti semester pendek. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Gonggo telah absen satu semester. Bagian akademik menerangkan Gonggo mangkir. Mendapati informasi ini, sang paman langsung pulang menemui orang tua Gonggo di kampungnya di Pati. Keluarga sangat terkejut. Evi yang berada di Semarang dikontak. Saat itu juga Evi pulang. Esoknya mereka kemudian ke Jogja.

Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju ke Fakultas Kehutanan di mana Gonggo kuliah. Bersama orang tuanya, Evi menuju ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiwa) di fakultas itu. Mereka ditemui oleh pengurus BEM. Evi menyampaikan maksud kedatangannya. Dari pengurus BEM itu diketahui jika adik Evi ada kemungkinan terlibat gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Menurut pengurus BEM, sudah ada tiga korban di fakultas itu.

Kemudian mereka menemui bagian akademik, memastikan status Gonggo. Ternyata memang benar, Gonggo sudah mangkir satu semester. Pihak orang tua memohon pengertian pihak kampus agar tidak memberikan skorsing kepada Gonggo. Mereka bahkan sampai menemui pihak rektorat. Mereka menyampaikan jika Gonggo ada kemungkinan menjadi korban NII. Mereka mengusulkan untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Namun usul ini ditolak oleh UGM. Rektorat kuatir dengan dilaporkannya ke kepolisian nanti akan diekspos oleh media, dan nama UGM bisa tercemar. Mereka memilih orang tua Gonggo bisa menyelesaikan secara kekeluargaan. Rektorat akan memberikan kesempatan Gonggo untuk kuliah kembali. Status mangkirnya akan dihitung cuti.

Jawaban pihak rektorat UGM yang memberikan kesempatan kepada Gonggo untuk dapat kuliah kembali memang cukup bijak. Namun penolakan usulan pihak orang tua Gonggo yang ingin melaporkan NII ke kepolisian, jelas sangat egois. Bagaimana tidak, yang dipikirkan adalah nama baik, bukan nasib sivitas akademiknya!

Setelah itu, mereka segera mencari Gonggo dan akhirnya bisa bertemu. Mereka bertemu di kantin kampus. Kepada bapak dan ibunya Gonggo membantah dirinya tidak terlibat dengan NII. Padahal sang bapak mengancam akan melaporkannya ke kepolisian. Tapi dijawab dengan enteng oleh Gonggo. “Kalau nggak percaya, ya sudah!”

Evi mencoba berbicara empat-mata dengan adiknya. Tapi ia mendapati jawaban yang sungguh sangat tidak dia perkirakan sebelumnya.

“Aku nggak habis pikir dia tega banget melakukan itu semua. Aku sudah mati-matian cari hutangan, kuliah kutinggal untuk menutup hutang, itu semuanya demi dia, kok dia membalasnya seperti itu. Ternyata selama ini dia bohong…” tutur Evi kepada saya belum lama ini di kompleks PKM Fakultas Sastra Undip.

Evi adalah mahasiswa D III Inggris angkatan 2003. Saat ini berarti dia sudah semester
ke-10. Padahal batas waktu maksimal untuk mahasiswa D III adalah 10 semester. Beruntung dia masih punya sisa satu semester karena sebelumnya dia pernah cuti kuliah.

“Aku sudah capek mengurusi adiku. Saat ini aku harus menyelesaikan kuliah sambil bekerja untuk membayar hutang,” ucapnya. Tampak senyum kecut di wajahnya yang dibalut jilbab.

Apakah orang tua Evi mengetahui apa saja yang sudah dilakukan untuk sang adik?

“Aku sengaja tak memberitahu orang tua. Nanti mereka bisa syok,” jawabnya.

Ya, mereka akan syok bahwa ternyata Gonggo sudah melakukan sejauh itu. Bukan malah membela Evi yang kini kesusahan, mereka malah bisa menyalahkannya karena meminjami uang untuk adiknya. Dan yang parah, si bapak akan kembali mengungkit-ungkit masalah lama. Si bapak ini rupanya punya dendam dengan Islam. Ia ingin sekali anak-anaknya memeluk kepercayaan yang dia anut, kepercayaan “kejawen”.

Hari sudah sore. Di ruangan tempat kami ngobrol cukup panas. Sepertinya Evi mulai kelelahan setelah bercerita beberapa jam lamanya. Sesekali ia menyeka butiran-butiran keringat yang bercucuran di wajahnya. Sepertinya ia benar-benar lelah, lelah memikirkan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang menimpa adiknya. Saya meminjami sebuah buku berjudul “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!” karya Muhidin M Dahlan, sebuah novel yang mengisahkan pengakuan salah seorang muslimah yang menjadi korban NII. Saya juga menjanjikan akan memberinya beberapa berita yang saya kliping. Saya kira dia perlu banyak informasi tentang NII. Besok, pada jam yang sama, kami akan bertemu lagi. [udin]

Silakan baca tulisan terkait:
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/negara-islam-yang-meresahkan.html
- http://hanyaudin.blogspot.com/2007/05/mem-polisi-kan-gerakan-nii-kw9.html

SIM, Fasilitas Baru Warga Sastra

Pengisian KRS bisa dilakukan di rumah. Nilai hasil ujian tiap semester pun bisa diketahui dengan cepat tanpa harus datang ke kampus. Semua itu bisa dilakukan jika SIM sudah tersedia.

Oleh : Pratama Yoga N
Reporter : Yuanita M, Handini UPS, Ika Lutfi A, Nor Ismawati, Kurniawan

TIAP awal semester, mahasiswa Fakultas Sastra disibukkan dengan pengisian KRS. Mereka memilih matakuliah yang akan diambil satu semester ke depan. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah memasukkan kode matakuliah pilihannya ke komputer agar bisa di proses pihak tata usaha.

Tetapi apa jadinya jika hanya dua buah komputer yang disiapkan untuk mahasiswa? Padahal mahasiswa Sastra mencapai ribuan.

Fajar Dian Utami, mahasiswi Ilmu Perpustakaan`06, mengeluh ketika input data ke komputer. “Komputer kurang saat mau ngisi KRS sehingga harus antre,” kata Fajar agak kesal.

Sependapat dengan Fajar, Dwi Cahyo, mahasiswa asal Karang Anyar ini juga mengeluh soal kekurangan komputer. “Harus antri saat input, stress deh pokoknya, capek, menyita waktu.”

Tidak salah memang mereka mengatakan demikian. Coba saja Anda bandingkan 2047 mahasiswa di Fakultas Sastra (data diambil dari jumlah mahasiswa yang membayar dana kemahasiswaan tahun ajaran 2006/2007) dengan dua buah komputer untuk melayani kebutuhaanya. Bayangkan berapa lama antrenya.

Berbeda dengan Fajar dan Dwi, Mulyati, mahasiswa Sastra Indonesia2005, menyoroti dampak lain. Saat memasukkan data ke komputer terjadi kesalahan, misalnya. “Kemungkinan terjadi kesalahan sangat besar, apalagi teman-teman saya banyak yang nitip, semester tiga kemarin aja saya hampir salah masukinnya.”

Setelah dikonfirmasi lebih lanjut kenapa teman-temanya menitipkan KRS, Ulya, sapaan akrab Mulyati, menjelaskan. “Temen pada nitip karena antrenya lama banget, desak-desakan, jadi saya mau-mau aja. Harus ada yang berkorban, namanya juga teman,” kata Ulya sambil tersenyum kecil.

Oleh karena itulah, pihak fakultas berencana memasang Sistem Informasi Manajemen (SIM). Apa itu SIM?

“SIM itu sistem yang menggunakan electronic divice yaitu peralatan elektonik yang mengatur bidang akademik, pengajaran, kemahasiswaan, keuangan, kepegawaian dan aset. Dekan tinggal mengklik untuk mengetahui di mana seorang dosen mengajar, misalnya. Selain itu bidang kepegawaian, dosen yang belum naik pangkat dapat diketahui datanya, selanjutnya akan diingatkan untuk segera menyerahkan syarat-syarat naik pangkat,” terang Drs Suharno MEd, Pembantu Dekan IV yang mengurusi kerjasama dan pengembangan.

Awalnya progam penyelenggaraan SIM adalah tanggung jawab Universitas. Tiap fakultas tidak perlu susah payah memikirkanya. Tapi kemudian muncul masalah pada pendanaan. Universitas kekurangan dana untuk memenuhi kebutuhan tiap fakultasnya sehingga penyelenggaraan SIM diserahkan kepada masing-masing fakultas. Fakultas Ekonomi sudah ada, Kedokteran, Teknik juga demikian. Fisip sudah mulai memasang SIM. Bagaimana dengan Sastra?

Drs Widodo ASS MEd, PD II, mengatakan Fakultas Sastra berencana mengembangkan SIM layaknya Fakultas Ekonomi. Dengan SIM mahasiswa tak perlu antre mengisi KRS. Bahkan bisa dilakukan di daerah asal masing-masing. Mahasiswa tak perlu ke kampus, tinggal klik di rumah saja.

Dra Chusnul Hayati MHum, PD I, membenarkan hal itu. Namun, pengembangan SIM masih dalam progam. Sebenarnya, fakultas akan memasang SIM 2006 lalu. Dana yang dibutuhkan 90 juta.

Akhir 2006 lalu, September, saat Prof Sri Rahayu Prihatmi masih menjabat sebagai dekan Fakultas Sastra, rencana SIM untuk bidang akademik sudah setengah matang. Yang mengerjakan program itu orang dari Unnes (Universitas Negeri Semarang). “Tapi dekan kurang puas, jadi rencananya dipending dulu,” tambah Suharno.

Namun demikian, keinginan untuk memasang SIM tak pernah terkikis. Tahun 2007 Fakultas Sastra mendapatkan dana untuk progam pengembangan SIM sebesar 300 juta rupiah dari duta Undip. Tapi, kenapa sampai sekarang belum juga terealisasikan?

“Ya sebenarnya dana itu 1,2 milyar rupiah. 500 juta untuk sejarah, 400 juta untuk jurusan Sastra Inggris dan 300 juta untuk SIM. Kita memang sudah diberi tahu mendapatkan dana 300 juta, kemudian kita sudah diminta respeck nya, tapi itu belum juga turun,” kata Widodo.

Lebih lanjut Widodo mengatakan, fakultas hanya mengajukan usulan. Tempat untuk SIM telah tersedia. Tepatnya di samping kanan perpustakaan Fakultas Sastra, bangunan paling pojok, dan menghadap ke timur.

Suharno menambahkan,”DIPA Undip pusat telah menyetujui usulan Fakultas Sastra mengenai pengembangannya tahun 2006 lalu, dan kita mendapatkan dana 300 juta. Tapi, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dana itu keluar. Untuk sekarang kita sudah mempersiapkan portal. Jangkauanya lebih luas daripada website dan bilingual, jadi ada penerjemah teksnya. Kita bekerjasama dengan CV Colibri Infosy untuk mengelolanya. Kita menghabiskan 25 juta untuk itu. Bisa juga untuk elektronic learning, jadi selain tatap muka dosen bisa mengajar lewat email,” tambahnya.

Entah kapan progam SIM secara lengkap terwujud di Fakultas Sastra, layaknya Fakultas Ekonomi. Mungkin 2008, kata Suharno. “Pokoknya menunggu dana dari DIPA Undip pusat turun, lumayan 300 juta meskipun tidak selengkap seperti di Ekonomi. Soalnya untuk pengembangan SIM secara lengkap menghabiskan dana 500 juta, itu di Ekonomi, dan untuk pemeliharanya 15-20 juta perbulannya,” paparnya .

Tinggal tunggu saja dana itu keluar. Entah 2008, 2009, 2010, atau…. Ditunggu saja!***

Area Parkir Baru Tinggal Menunggu Izin

Lahan parkir Fakultas Sastra mulai penuh. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihak dekanat berencana menggunakan trotoar depan kampus sebagai lahan tambahan.

Oleh Ira Yuliana
Reporter: Nely Restiana M, Dian Hijrianti, Ainia Prihantini, Tri Hadi S, Mahfudhoh

SUATU siang di bulan Maret 2007, Drs Wiranto bertamu ke kantor redaksi LPM Hayamwuruk. “Mas, masih ada Hawe Pos yang edisi parkir? Mau saya bawa ke Pemkot,” katanya pada salah satu awak redaksi.

Kemudian Kepala Subbagian Umum dan Perlengkapan itu bercerita tentang rencana Fakultas Sastra yang akan bekerjasma dengan pemerintah kota. Kerjasama itu berupa permintaan ijin pemakaian trotoar depan Sastra. Dengan demikian, ada penambahan lahan yang akan bisa dipakai mahasiswa untuk memarkirkan kendaraannya.

Hawe Pos edisi “Parkir” yang diminta Wiranto terbit bulan Desember 2006. Salah satu rubrik di dalamnya meliput tentang membludaknya kendaraan di Fakultas Sastra. Halaman parkir Sastra penuh. Bahkan depan jurusan yang notabene bukan lahan untuk parkir, dipadati oleh kendaraan. Jika sekarang saja seperti ini, bagaimana nanti jika mahasiswa baru angkatan 2007 masuk? Permasalahan itulah yang akan dicarikan solusi oleh dekanat.

Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan parkir tersebut adalah pemakaian trotoar depan kampus Sastra. Untuk itu, pihak fakultas harus bekerjasama dengan pemilik lahan, yaitu Pemkot.

RENCANA penambahan area parkir ini sebenarnya tidak baru-baru ini saja diperbincangkan. Pada peresmian Joglo, akhir Januari 2007, Dekan Fakultas Sastra sempat menyinggung permasalahan tersebut. Saat dikonfirmasi lagi, Prof Dr Nurdien H Kristanto MA membenarkan rencana itu. Bahkan persiapannya sudah dimulai akhir tahun 2006 lalu.

Pada rapat koordinasi yang diwakili Kasubbag Umperkap dengan kantor pusat, dibahas mengenai rencana pembangunan parkir. Alasannya, area parkir Sastra memang sudah padat. Lahannya yang sempit otomatis dibutuhkan lahan parkir yang baru. Kesepakatan yang diambil dalam rapat itu, lahan di depan pagar Fakultas Sastra akan ditata. Penatannya akan diatur oleh Fakultas Sastra.

Gambaran mengenai area parkir yang baru menurut Nasir, lahan itu akan diblok. “Lahan itu akan di blok memakai semen dengan sebagiannya dipasangi besi yang bisa diangkat sewaktu-waktu. Sehingga, kalau di bawahnya (di dalam selokan) ada sampahnya bisa diambil, kemudian ditutup kembali,” tuturnya.

Rencana tersebut hanya tinggal menunggu ijin dari Pemkot. Kata Nasir, pihak fakultas telah mengirim surat ijin pembangunan parkir kepada Pemkot. Namun sampai saat ini pemkot belum memberikan jawaban.

Selain ijin, yang dibutuhkan tentu dana. Nurdien mengungkapkan bahwa dana yang dianggarkan untuk pembangunan area parkir tersebut kira-kira 100-200 juta. Namun, Nasir menegaskan bahwa dana itu belum bisa dipastikan.

“Masalah anggaran masih belum bisa dipastikan kira-kira butuhnya berapa, karena belum ada kepastian persetujuan. Jadi belum bisa memprediksinya. Kalau dari sekarang kami sudah menganggarnya dan ternyata tidak disetujui, kan percuma. Kalau sudah disetujui, baru kita…,” jelas Nasir. Sumber dananya akan diambilkan dari Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA).

RENCANA pembangunan area parkir baru tersebut ternyata belum banyak diketahui mahasiswa Sastra sendiri. Menurut Listina, mahasiswa Sastra Inggris Ekstensi 2006, dirinya mengaku tidak tahu-menahu mengenai rencana itu. Namun, dia sangat mendukung seandainya rencana itu dapat terwujud.

“O ya? bagus dong kalau Sastra mau dibangun parkiran baru. Masalahnya kan dah penuh kayak gitu…,” ungkap Listina.

Selain Listina, Mukaromah mahasisswa D3 Inggris 2006 juga mengerutkan kening saat ditanya perihal rencana itu. Dia hanya berharap soal keamanan perlu diperhatikan. “Tapi kalau benar, keamanannya harus diperhatikan soalnya kan di luar halaman kampus,” harapnya.

Soal keamanan, pihak fakultas telah mengaturnya. Hal ini telah ditegaskan oleh Nurdien. Selain itu, pihak fakultas juga akan menyediakan keamanan kontrak agar aktivitas dalam berlalu lintas tetap berjalan lancar.

Lalu, masalah yang mungkin timbul adalah mengenai Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di depan. Menurut Nurdien, hal itu akan diserahkan pada kebijakan Pemkot melalui pihak kelurahan. Karena legal tidaknya para PKL itu pihak kelurahanlah yang lebih tahu. Jadi dibutuhkan kerja sama antara pihak kelurahan dan Pemkot untuk menangani mereka.

Selanjutnya bagaimana nasib PKL jika rencana itu benar-benar diwujudkan?
“Ikut saja sama kebijakan. Kalau dipindah ke lokasi yang strategis mau aja, tapi kalau tempatnya sepi ya pindah aja. Yang penting lokasinya strategis,” kata Azam, penjual empek-empek yang berjualan di depan kampus.

Sedangkan Irman, penjual siomay juga berkomentar senada. “Pindah ke tempat yang lebih strategis, kalau bisa masih di Sastra soale dah banyak pelanggan.”

Dalam perwujudan program ini, tak ada hambatan berarti. Ketika ditanya mengenai target penyelesaian pembuatannya, Nurdien menegaskan secepat mungkin. “Kalau ijin sudah turun, langsung disiapkan. Untuk pembangunannya, satu bulan sudah bisa selesai.”

Dengan adanya area parkir baru, semoga penataan kendaraan bisa lebih rapi. Dan kegiatan perkuliahan maupun kegiatan-kegiatan lain dapat berlangsung dengan lancar.
“Jadi, parkirnya tidak jadi di tingkat, hahaha…” jawab Andre, salah seorang mahasiswa Sastra 2004, ketika mengetahui rencana ini.****

Andrea Hirata: Laskar Pelangi, Kado untuk Guru dan teman-teman kecilku

SELASA pagi, 27 Maret 2007 di pelataran parkir sebelah timur Fakultas Sastra digelar “Temu Penulis dan Bincang Buku bersama Andrea Hirata.” Acara yang didukung oleh Renjana Organizer, Hawe Pos, Toko Buku Toga Mas, dan Penerbit Bentang Pustaka ini akan memperbincangkan dua buku pertama sekaligus pre-launch buku ketiga Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi.

Selain Andrea Hirata, turut hadir Aulia Muhammad (Pemimpin Redaksi suaramerdeka.com) sebagai pembedah karya dan Agus M Irkham (Pegiat komunitas perbukuan) bertindak sebagai moderator.

Menurut Aulia, Laskar Pelangi, yang acapkali dibandingkan dengan novel Tetsuko Kuroyanagi, Totto-Chan, merupakan salah satu bentuk kenarsisan Andrea. Novel pertama Andrea penulisannya masih bersifat sangat subjektif. Namun, Andrea mulai memperbaikinya secara perlahan dalam buku kedua, Sang Pemimpi.

Aulia juga menambahkan bahwa memoar itu ditulis dengan pendekatan orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Andrea membenarkan komentar Aulia.

Andrea mengakui bahwa novel tersebut memang ditulis berdasarkan sudut pandang dia yang sudah dewasa. Lewat tetralogi yang ceritanya bergerak linear sesuai tingkatan pendidikan yang dienyamnya, Andrea ingin berpesan bahwa hidup haruslah mempunyai integritas. Mungkin karena integritas itulah, alumni Fakultas Ekonomi UI itu mampu meracik novel yang bertema tidak populer menjadi karya yang menarik.

Kehidupan yang dramatis penuh dengan perjuangan hidup, namun mengesankan. “Aku membaca novel itu tertawa-tertawa sendiri di kamar. Bisa menangis juga. Pokoke nyentuh,” kata Zumala, Sastra Indonesia 2005.

Fajar, mahasiswa Teknik Sipil Undip 2001, mengatakan Laskar Pelangi merupakan bacaan alternatif yang segar dan jujur. Selain menghibur, novel itu juga membuat orang ikut bergerak untuk melakukan sesuatu.

Sosok Andrea Hirata, tak pernah dikenal sebelumnya. Tak pernah menulis sepotong pun cerpen, tiba-tiba muncul dengan tetralogi. Out of the Blue, metafora yang pantas digambarkan Sapardi Djoko Damono untuk Andrea. Melalui dua karyanya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi Andrea mampu menempatkan dirinya sebagai salah satu penulis muda Indonesia yang berbakat. Bahkan novel pertamanya telah beredar di luar negeri dan mencapai best seller di Malaysia.

Laskar Pelangi bercerita tentang kehidupan 11 anak Belitong yang bersekolah di SD dan SMP Muhammadyah. Sekolah tertua di Belitong yang hampir roboh. Karena kondisinya yang memprihatinkan, pemerintah berencana menutupnya. Namun Bu Muslimah dan Pak Harfan tetap berjuang agar sekolah itu tetap berdiri. Itulah satu-satunya sekolah yang tidak menarik bayaran. Sekolah untuk anak-anak miskin di Belitong.

Nama Laskar Pelangi diambil Andrea dari julukan bu Muslimah untuknya dan kesepuluh temannya. “Laskar itu kan punya pengertian patriotik ya, punya pengertian pejuang. Jadi, karena waktu itu banyak siswa di sekolah yang tidak kuat mental terus keluar dari sekolah, sebab dia terpinggirkan oleh keadaan, gitu. Nah terus makanya beliau menamai kami Laskar Pelangi. Agar kami punya nuansa dan moralitas,” kata Andrea.

Untuk mengabadikan kehidupan masa kecilnya, ia menulisnya dalam bentuk novel. Karya tersebut dipersembahkan khusus untuk bu Muslimah, pak Harfan, dan kesepuluh temannya. Tak ada niat dikirim ke penerbit. “Buku ini dikirimkan oleh teman saya ke penerbit. Jadi karena penerbitnya ya Alhamdulillah dia senang dengan karya saya, kemudian proses editing selama dua bulan. Dan langsung terbit,” lanjutnya. Lalu, dalam waktu dua minggu, novel itu telah mencapai best seller.

Laskar Pelangi ditulis Andrea hanya dalam waktu tiga minggu. Ia menulisnya setelah pulang dari kantor. Bila sudah telanjur menulis, ide-ide itu langsung mengalir begitu saja sehingga ia tak ingin berhenti.

Satu kejadian yang masih diingat Andrea hingga kini, tentang kegigihan gurunya. “Saya inget ibu Muslimah datang ke sekolah dengan berpayungkan daun pisang, romantis kan? Dengan basah kuyup, belajar dengan air setinggi lutut. Banjir, ” ungkap Andrea.

Berkat tulisannya, bu Muslimah diusulkan menjadi salah satu kandidat penerima penghargaan yang diberikan salah satu departemen kementerian Indonesia. Tak hanya itu, novel Laskar Pelangi ini juga akan segera difilmkan oleh sineas kenamaan Indonesia, Riri Reza. ****